Jumat, 06 November 2009

Sumpah Pemuda era 2009

SUMPAH PEMUDA DI ERA 2009
Tanggal 28 Oktober 2009 ini, kita merayakan 81 tahun Sumpah Pemuda, peristiwa penting yang amat menentukan dalam lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menjadi penting karena 81 tahun lalu pada tanggal yang sama di Jl Kramat 106 Jakarta, generasi muda bangsa ini mengikrarkan rasa kesatuan.
“PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia.”
Konvensi trilogi integralitas ini merupakan fakta sejarah yang tak terbantahkan bahwa generasi muda bangsa kala itu adalah generasi muda yang berkarakter. Maka tak heran jika TB Simatupang dengan bangga pernah berkata: "Sekiranya kemerdekaan itu adalah hasil perundingan, seperti, terjadi dengan India, bangsa saya tak akan mungkin sebersatu seperti halnya sekarang ini."
Artinya, semangat persatuan Indonesia sebagai bangsa dengan ciri kerelaan berkorban itu tumbuh dalam perjuangan yang sulit, khususnya dalam menghadapi musuh bersama, yaitu kolonialisme. Ikrar kebangsaan Indonesia tumbuh makin kuat sebagai reaksi terhadap kolonialisme. Pengalaman perjuangan kemerdekaan Indonesia itu juga telah menjadi inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan negara-negara lainnya, khususnya di Asia. Lantas timbul pertanyaan, mampukah kita mengobarkan kembali semangat Sumpah Pemuda, yang menjadi kunci penting bagi lahirnya negara merdeka seperti saat ini?
Pertemuan para pemuda itu disebut Kongres Pemuda II. Para peserta Kongres Pemuda II ini berasal dari berbagai wakil organisasi pemuda yang ada pada waktu itu, seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Cele bes, Jong Batak, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, PPI, dan lain-lain. Mereka yang hadir terdapat beberapa orang pemuda Tionghoa sebagai pengamat, yaitu Oey Kay Siang, John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien Kwie serta Kwee Thiam Hong sebagai seorang wakil dari Jong Sumatranen Bond. Sebagaimana dapat dibaca dalam situs Museum Sumpah Pemuda, gagasan penyelenggaraan Kongres Pemuda II berasal dari Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan selama dua hari.
Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, Soegondo Djojopuspito berharap kongres ini dapat memperkuat semangat persatuan dalam sanubari para pemuda. Acara dilanjutkan dengan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persatuan dengan pemuda. Menurut Yamin, ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mangoensarkoro, sependapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis. Pada sesi berikutnya, Soenario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan mengemukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan. Akhirnya, sebelum kongres ditutup diperdengarkan lagu “Indonesia” karya Wage Rudolf Soepratman. Lagu tersebut disambut dengan sangat meriah oleh peserta kongres. Kongres kemudian ditutup dengan mengumumkan rumusan hasil kongres. Oleh para pemuda yang hadir, rumusan itu diucapkan sebagai Sumpah Setia yang kemudian kita kenal dengan Sumpah Pemuda. Ikrar Sumpah Pemuda hanya terdiri dari 3 poin tetapi maknanya demikian mendalam. Bahkan dari ikrar ini membuat para pemuda keturunan Arab di Indonesia mengadakan pula kongres di Semarang pada 4-5 Oktober 1934. Kongres yang diprakarsai AR Baswedan ini mengumandangkan Sumpah pemuda ketu runan Arab yang berisi tekad untuk menjadi bagian dari bangsa Indonesia dan ikut berjuang dalam per gerakan kemerdekaan Indonesia. Dari sini dapat diketahui bahwa kemerdekaan Indonesia disemangati para pemuda dengan tanpa memandang latar belakang suku, etnis, agama, budaya, bahasa, dan lainnya.Hal menarik yang patut kita amati dari para peserta Kongres para pemuda 80 tahun lalu itu, selain kea nekaragaman asal usul mereka juga adalah menyangkut usianya yang masih sangat muda belia. Mereka rata-rata berusia di bawah 30 tahun, seperti Mohammad Yamin dan WR Soepratman ketika itu masih 25 tahun, Soegono (Ketua PPPI) 24 tahun, dan Soenario 26 tahun. Bahkan ketika Boedi Oetomo berdiri 1908, tokohnya banyak lebih muda lagi karena masih berstatus mahasiswa, seperti Soetomo 20 tahun dan Tjipto Mangunkusumo 22 tahun. Melihat usia mereka yang sangat muda, sementara kondisinya dalam kungkungan penjajahan, kita dapat merasakan betapa para pemuda Indonesia memiliki semangat kejuangan tinggi dengan tingkat intelektu alitas yang tinggi pula. Bahkan di antaranya juga sudah menyandang predikat sarjana, seperti Soenario, ahli hukum yang bergelar Mr (Meester in de Rechten) dalam usia 24 tahun. Artinya, masa belajar para tokoh pemuda tersebut tidak jauh banyak berbeda dengan anak-anak muda masa sekarang yang sudah berada dalam Indonesia merdeka.Pertanyaannya bagaimana dengan pemuda di zaman saat ini.
N. Doeldjani menjelaskan bahwa generasi muda saat ini menghadapi empat masalah, yaitu bidang ekonomi-edukatif, biologis-fisik, sosial-patologis, dan psikologis. Untuk masalah yang
pertama bidang ekonomi-edukatif mengambil bentuknya pada terbatasnya fasilitas pendidikan dan lapangan kerja.
Kedua biologis-fisik, gizi buruk, perkawinan di bawah umur dan tuna fisik,
Ketiga sosial-patologis, tuna susila dan tuna mental dan kenakalan remaja,
Keempat psikologis, kekurangpastian terhadap masa depan yang akan mengakibatkan frustasi atau kekecewaan kaum muda.
Berbagai persoalan yang dihadapi oleh kaum muda itu sebagai bagian dari gambaran masyarakat yang sedang mengalami perubahan dan perubahan sosial yang dipengaruhi oleh globalisasi itu berimplikasi serius terhadap perkembangan pemuda.
Menurut Dawam ada dua (2) tantangan yang dihadapi pemuda di abad 21 yakni :
pertama, menghadapi implikasi dari proses globalisasi ekonomi, politik dan kultural yang berasal dari negara-negara maju, dalam kondisi inilah generasi muda harus mampu membawa bangsanya dalam proses integrasi masyarakat internasional. Hal ini menyangkut kemampuan bangsa Indonesia secara teknis profesional bersaing dengan bangsa-bangsa lain terutama di bidang Iptek.
Kedua, adalah tantangan yang menyangkut proses demokratisasi dari segi ekonomi, sosio-kultural dan politis. Menurut Kementerian Pemuda dan Olahraga, bahwa pemuda mengalami mis-orientasi dalam menatap masa depan yang cenderung melihat politik sebagai panglima artinya bahwa masyarakat lebih cenderung Politic Minded, akibatnya masyarakat berlomba-lomba merebut kekuasaan di bidang politik, seharusnya lebih diarahkan pada bidang ekonomi (economy minded). Secara jujur dan gamblang, kita harus jujur menyakini bahwa generasi muda saat ini banyak yang sudah mulai terkikis jiwa nasionalismenya, rasa patriotisme, rasa cinta tanah air mulai hilang dengan gejala-gejala pragmatisme dan hedonisme. Kecenderungan pemuda untuk lebih serius lagi melihat persoalan bangsa mulai memudar, mereka lebih cenderung pada kehidupan yang lebih glamour dan hura-hura. Sikap kritis dan semangat juang hanya berlaku temporer sifatnya, tidak ada keteguhan hati dan komitmen moral untuk terus mengawal proses demokrasi yang sudah berjalan. Untuk itu diperlukan reformasi kepemudaan untuk membuat pemuda tumbuh dalam kapasitas dalam menjawab persoalan kebangsaan, memiliki daya saing tinggi, memiliki kekuatan dan daya tumbuh yang kuat, yaitu: 1. Pemberdayaan pemuda: adalah upaya yang dilakukan secara sistematis guna membangkitkan potensi pemuda agar berkemampuan untuk berperan serta dalam pembangunan, memposisikan pemuda sebagai potensi dan kader yang harus dikembangkan. 2. Pengembangan pemuda: upaya sistematis yang dilakukan untuk menumbuh kembangkan potensi kepemimpinan, kewirausahaan dan kepeloporan pemuda. 3. Perlindungan pemuda: upaya sistematis yang dilakukan dalam rangka menjaga dan menolong pemuda terutama dalam hal-hal seperti demoralisasi, degradasi nasionalisme, penetrasi paham-paham non-pancasilais dan pengaruh destruktif seperti narkoba dan HIV-AIDS.Inilah yang seharusnya menjadi tantangan bagi generasi muda untuk tetap eksis memperjuangkan jati diri bangsa sekaligus teguh untuk tetap pada pendiriannya sebagai agen pelopor, agen perubahan dan tulang punggung bangsa.
Tiga karakter yang penting untuk dijadikan cerminan sekaligus diteladani dari semangat Sumpah Pemuda, yakni :
pertama, karakter pemberani.
Karakter kedua adalah nasionalisme yang tangguh Karakter ketiga adalah intelektualis dan moralis. Intelektualis karena generasi 1928 merintis refleksi serta debat tentang prinsip-prinsip dasar cita-cita kebangsaan dengan pikiran dan pengetahuan. Mereka tidak mau terjerembab dalam kubangan sikap yang dikhawatirkan oleh Julian Benda, yakni penghianatan intelektual demi kepentingan sesaat. Mereka justru mengkritisi sikap-sikap penjajah dan mendalami filsafat bangsa, masyarakat, dan negara yang dicita-citakan.
Menjadi moralis, karena atas dasar solidaritas yang tinggi serta keberpihakan pada nilai-nilai mendasar kemanusiaan, mereka menyatakan perjuangan untuk melawan penindas dengan semangat yang sama.
Saat ini yang dapat kita berikan kepada bangsa ini adalah prestasi-prestasi membanggakan untuk semua rakyat Indonesia. Sedikitpun apa yang kita berikan kepada bangsa bukan menjadi sebuah ukuran, namun makna di dalam pemberian tersebut. Saat ini juga sudah banyak contoh yang membanggakan bagi bangsa ini dan khususnya untuk para pemuda Indonesia seluruhnya. Para pembela tanah air dalam kancah-kancah internasional seperti perlombaan olahraga dunia maupun lomba Olimpiade dunia dan sebagainya.Semoga kita sebagai pemuda Indonesia sampai detik ini masih merasakan kebahagiaan hidup di Indonesia, masih memiliki jiwa-jiwa nasionalisme, jiwa-jiwa cinta tanah air. Siapa lagi yang akan meneruskan perjuangan para pahlawan bangsa kalau bukan kita pamuda masa kini. Seraya kita mengepalkan tangan mari kita bersama-sama pekikkan HIDUP PEMUDA!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar